Image of Kutunggu Karyamu 100 Tahun Lagi!

Karya Ilmiah Dosen

Kutunggu Karyamu 100 Tahun Lagi!



Apakah ketika Kartini menorehkan pena seabad lalu, tepatnya 6
November 1899 kepada Nona Estella tentang kapankah ia dan gadis
pribumi dapat mereguk kebebasan berekspresi, adalah utopia
belaka? Atau juga, ketika Soekarno mengharapkan kelak kehadiran
Tugu Nasional tetap eksis 1.000 tahun sejak ia lontarkan gagasan itu
(1960) di hadapan peserta sayembara? Tulisan ini akan masuk
melalui ilmu sejarah (seni dan arsitektur) di saat kedua tokoh itu
menerawang ke sebuah masa seabad ke depan. Jangkauan seabad
berkesenian bahkan terlampau pendek untuk disandingkan dengan
gelegak tubuh-tubuh perupa untuk berkarya. Akan tetapi, hasrat
serta karya yang bagaimanakah yang urgen untuk digali dan
diunggullkan oleh institusi seni demi menginspirasi abad baru?
Jawabannya ada pada rencana terukur untuk itu. Dengan
menyandingkan gagasan elok para pemimpi dan pemimpin dunia,
dapat dianalogikan konteks universal pengentasan ‘kemiskinan’
selaras denagn pengentasan ‘kesenian’ agar seni termasuk arsitektur
tetap bersinar dalam hitungan ratusan tahun. Diusulkan enam kata
kunci sebagai wacana yaitu; (a) kekuasaan, (b) pengetahuan, (c)
tanah, (d) kredit, (e) teknologi, dan (f) organisasi. Di masa Kartini
bertekad, baru satu hal yang dimilikinya, pengetahuan. Ketika Bung
Karno berkehendak, empat hal yang dimilikinya kekuasaan,
pengetahuan, tanah, dan kredit, namun tidak menguasai teknologi
dan organisasi. Di saat Tugu Monas dibangun, beliau tumbang.
Organisasi yang diharapkan mampu merawat Tugu Nasional 1000
tahun ke depan, sebagai karya seni yang seharusnya terlihat dari
jarak skala 50-60 km darinya tak mewujud.


Ketersediaan

PROUPT200002PROUPT200002Perpustakaan PusatB A C A
D I T E M P A T

Lampiran Berkas

Informasi Detil

Judul Seri
Seminar Nasional Dies Natalis ke-36 ISI Yogyakarta, Kreativitas & Kebangsaan: Seni Menuju Paruh Abad XXI
No. Panggil
PROUPT200002
Penerbit : .,
Deskripsi Fisik
31 p.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN/NPM
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

JudulEdisiBahasa
The Idea of "Architecture Stage": A Non-material Architecture TheoryV7.N10.2013en
The New Architecture of Mosque Design to Express the Modernity of MoslemsV2.2013en
The Fashion-Architecture's Theory: Reflecting Tribe Civilization into Contemporary AgeV8.N12.2014en
Khora as a New Method in Art and Architecture FieldV1.N1.2016en
"A" New Museum of Indonesian Batik: An Architecture of "Showing off"V11.N3.2017en
Toward the Tallest Statue of Garuda Wisnu Kencana: An Exploration of the Architectonic Design of the Land Art of Nyoman Nuarta's WorkV8.2017en
Architectonics: Design of the Nu Art Museum in Bandungen
An Artificial Intelligent of Princess Mandalika Legend: A New Strategy to Sustain the Resort of Mandalika-LombokV10.2019en
Bung Karno dalam "Panggung Indonesia"id
Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia Bagian Timurid
Grounded Theory untuk Arsitektur, Seni, dan Desainid
Studio Living pada Rumah Kaki Seribu di Papua Baratid
De Tjolomadoe: Adaptive Reuse Bangunan Cagar Budayaid
Tiga Relief Tiga Perupa: Narasi Keindonesiaan di Ruang VIP Eks Bandara Kemayoran Jakartaid
Sejarah Arsitektur Melalui Visual- Estetik Diorama dan Litografi Nusantaraid
Sukarno, "Sang Padma" yang Meranggas di Bulan Maret 1966en
Seni Kriya Indonesiaid
Historiografi Arsitektur Kesenjangan dalam Meneliti, Teori dan PraktikJilid 1id
Kemanusiaan pada Masa Wabah Coronaid
The Huge Captive Market in the Low-Cost Housing Businessen
The Triadic Column and Pivot Hinge:To Realize the ‘Beautiful House’ to ‘Wong Cilik’ As the Architecture Innovation to Low Cost Housingen
The Interiority of New Acropolis Museumen
The Jakarta Fashion- Architectureen
'A' New Museum of Indonesian Batik: An Architecture of 'Showing Off'en
Architectonics Design of Nu Art Museum at Bandungen
Archives: Get Closer to a Great Historical Memoriesen
"De Tjolomadoe": from Cultural Heritage to Industry 4.0en
Imaginary Vs. Traditional Museum: The Historical Heritage-Based DesignV.195en
Diplomasi Budaya Ala Soekarnoid
Peran Architecture Way of Finding dalam Perancangan Kawasan Pesisir Tropisid
‘Arsitektur Fesyen' bagi Wajah indonesiaid
Kota dan Monad Lokalitas Berbasis Inti Jiwa Seniid
Urban Fesyen dalam Anggitan Wastra Nusantaraid
Peran Sejarawan dalam Pelestarian Cagar Budaya: Studi Kasus pada Adaptive Reuse "De Tjolomadoe"id
Arsitek Era Soekarnoid
Soekarno dan Arsitekturid
Arsitektur Panggung di Kawasan Tugu Nasionalid
Bangunan Keraton dan Budaya Duduk di Lantai Sebuah Inspirasi di Era Globalid
Monumen di Indonesia: Siapa Penganggitnya?id
The Extended Role of Building Information Models (BIM): Mp4 Video of the Monument of Gelora Bung Karno of Jakartaen
The Process of Becoming Toward the Green City Jakarta: by Expansion Artifacts Surround the City Planen
An Adaptive Re-use of Cultural Heritage Buildings in Jabodetabek (Greater Jakarta) as the National Gallery of Indonesia’s Satellitesen
Prototipe Desain Visual Realitas Tertambah dengan Kacamata Pintar di Museum Fatahillahid
Inggit Garnasih: Perempuan dengan Tiga Peranid
Mutiara Pancasila dalam Anggitan Karya Arsitekturid
Bung Karno Bukan Arsitek, An Sichid
Bung Karno Sang Arsitek: Kajian Artistik, Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Interior, Kria, Simbol, Mode Busana dan Teks Pidato 1926-1945id
An Artificial Intelligent of Princess Mandalika Legend: A New Strategy to Sustain the Resort of Mandalika-LombokV10.2019en


Pencarian Spesifik


Judul:
Pengarang:
Penerbit:
Koleksi:
Lokasi:

Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this